Daftar Isi

Kamis, 13 Januari 2011

Pantai Papuma

Pantai Papuma, Jember ( menggunakan aplikasi  Google Earth)

Bagi yang suka berwisata pantai, pantai tanjung papuma merupakan tempat wisata yang wajib dikunjungi dan ini sedikit cerita tentang papuma.

  • Lokasi
Pantai tanjung papuma berlokasi di desa sumberejo kecamatan ambulu kabupaten jember. Pantai ini sekitar 37 km dari pusat kota jember. Akses jalan menuju pantai ini sudah bagus karena sepanjang jalan telah diperkeras oleh hitam aspal, kita bisa menggunakan mobil, motor ataupun rental mobil yang bisa didapat di kota jember dengan harga sekitar 150 ribu. Selain wisata pantai yang tersambung oleh pantai utara jawa timur di tanjung papuma terdapat juga bukit dan hutan seluas kurang lebih 50 ha yang sekarang mulai dikelola dan dipromosikan oleh perhutani unit II jawa timur.

  • Sejarah
Seperti kita tahu tanjung adalah daratan kecil yang menjorok ke laut, sedangkan papuma berasal dari akronim pasir putih malikan. Malikan adalah nama yang diberikan oleh perhutani setelah mulai membuka lokasi wisata ini.

  • Keindahan
Sebelum masuk ke pantai kita akan melewati wisata hutan yang sebagian besar ditanami pohon jati selanjutnya setelah masuk gerbang area wisata kita akan melihat hutan yang dipenuhi pohon-pohon yang masih alami seperti palem, serut dan beragam pohon kecil lainnya dan konon hutan ini masih menyimpan berbagi macam flora dan fauna tropis, seperti berbagai jenis burung dan juga lutung yang bergelantungan di pohon.

Setelah melewati hutan malikan kita akan disuguhi hamparan pasir putih yang bersih dan begitu indahnya, pantai yang berpanorama fantastis. Disepanjang pasir putih sebelah barat terdapat perahu-perahu nelayan yang sedang bersandar. Apabila ingin melihat nelayan turun dari kapal datanglah antara jam 11.00 sampai 13.00 siang dan kita bisa membeli langsung ikan hasil tangkapan nelayan untuk dibakar di pinggir pantai, tentu saja dengan bantuan para pemilik warung makan yang ada di sepanjang pinggir pantai. Setelah menelusuri pantai pasir putih akan semakin takjub melihat panorama pantai tanjung papuma ini, pantai yang bersih, air yang jernih dan setelah memandang ke tengah akan terlihat begitu banyak batu karang atau warga menyebutnya atol-atol, karena besarnya dan terombang ambing di tengah laut biru ini akan terlihat seperti pulau-pulau karang.

Ada 7 (tujuh) karang besar di papuma ini, deretan pulau karang ini memiliki nama sendiri-sendiri yang diambil dari tokoh pewayangan seperti, pulau batara guru, pulau kresna , pulau narada, pulau nusa barong, pulau kajang dan pulau kodok karena pulau karang ini bentuknya mirip dengan kodok raksasa yang timbul tenggelam di tengah laut.
Disaaat ombak sedang pasang akan terasa indah sekali bila kita melihat dari sudut pandang bawah sitihinggil karena akan terlihat tepat di depan mata bongkahan batu karang besar yang diterjang ombak besar ( sungguh elok ciptaan NYA)

Disaat surut atau ombak kecil kita bisa turun dan berdiri diatas batu-batu karang yang kalau laut pasang batu-batu karang ini tidak terlihat karena tertutup air laut, berdiri diatas karang sambil sesekali terkena ombak sungguh menakjubkan sambil melihat pemandangan nan eksotis dan luar biasa. Di saaat surut kita juga bisa melihat banyak nelayan yang mencari ikan dengan pancing, kalau kita berani menyeberang ikut para pemancing ini ke karang yang ditengah sungguh lebih menakjubkan lagi karena kita bisa berdiri diatas karang tinggi dan besar ditengah-tengah laut sambil melihat ombak yang menerjang karang yang tingginya kurang lebih 5 meter sungguh sensasinya luar biasa.. Karena tanjung papuma ini menghadap barat daya tentu pemandangan yang paling indah adalah saat sunset, disaat matahari terbenam tenggelam di air laut. Suasana dan pemandangan ini bisa kita nikmati di bukit kecil yang dinamai sitihinggil dimana disana sudah dibangun sebuah joglo. Di joglo ini kita bisa melihat seluruh wilayah tanjung papuma dari pasir putih, perahu nelayan, serpihan batu karang, karang kecil di bibir pantai dan juga bongkahan-bongkahan pulau karang di tengah laut. Bagi yang ingin berlibur ke daerah wisata di jawa timur sempatkanlah menikmati semua keindahan pantai tanjung papuma ini pasti takkan ada kata menyesal setelah mengunjungi pantai ini, bahkan akan tertarik untuk mengunjungi pantai ini lagi.

  • Penginapan
Jika ingin bermalam di tanjung papuma disini terdapat beberapa villa yang disewakan oleh pengelola wisata dari pihak perhutani, harga penginapan dengan variasi fasilitas kamar ber AC, single bed, kamar mandi dalam, TV dan beranda kecil harga di banderol sekitar 300- 400 ribu.
Tapi jika ingin kembali ke kota jember menginap sambil menikmati berbagai makanan khas jawa timur silahkan mencari penginapan di seputaran alun-alun kota jember karena ini tempatnya strategis untuk bersantai sambil berkuliner. Tarif penginapan bervariasi dari 70 ribu – 100 ribu kamar non AC dengan fasilitas kamar mandi dalam, TV dan single bed atau dengn harga 120 ribu keatas dengan fasilitas AC, kamar mandi dalam, TV dan sarapan pagi.

Selain Yang sudah disebutkan di atas terdapat juga hal - hal yang sangat menarik lainnya. Masih banyak keunikan yang belum kita ketahui pada tempat yang indah ini. Seperti hal nya :


  • Kera Ekor Panjang : Primata Penghuni Papuma Yang Bersahabat



Selain lutung jawa (budeng), di papuma juga terdapat jenis primata lain yang juga menjadi salah satu daya tarik obyek wisata papuma.  Primata ini hidup dan berkembangbiak dengan lestari. Jenis primata yang satu ini lebih banyak jumlahnya dan memiliki sebaran habitat yang sangat beragam dan jumlahnya / populasi tidak tergolong langka seperti budeng.

Primata ini mampu hidup di segala habitat dan ekosistem serta aktifitasnya tidak hanya melulu berada di atas pohon tetapi juga turun ke tanah dan beratifitas di atas tanah.  Karena kemampuan adaptasinya yang tinggi serta kemampuan berkembangbak yang cepat dan kelimpahan sumber makanan, jumlah primata ini di papuma juga lebih banyak dari budeng.  Diperkirakan jumlahnya sekarang ini sudah mencapai 100 ekor lebih.
Dialah si Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah monyet asli Asia Tenggara namun sekarang tersebar di berbagai tempat di Asia. Monyet ini sangat adaptif dan termasuk hewan liar yang mampu mengikuti perkembangan peradaban manusia.

Secara fisiologis, tubuhnya mempunyai panjang tubuh 38-76 cm, panjang ekor 61 cm dengan berat badan sampai 6 kg. Tubuhnya tampak kokoh yang tertutup mantel rambut berwarna coklat kemerah-merahan di bagian bawah nampak lebih muda dan muka menonjol dengan wama keputih-putihan. Wama mantel rambut kera ini yang hidup di pedalaman hutan lebih gelap dari pada yang hidup dipantai. Anak kera ekor panjang mantel rambut berwama hitam dengan rambut muka dan telinga nampak cemerlang, warna rambut inl akan berubah setelah berumur 1 tahun.

Anggota badan dapat difungsikan sebagal tangan dan sebagai kaki. Jari-jari kaki dan tangan masing-masing berjumlah 5 biji dan sangat mudah digerakkan. Pergerakan satwa ini jika berada di pohon menggunakan jari- jarinya, namun jika di atas tanah akan menggunakan telapak kaki dan tangannya ke tanah. Macaca juga dapat memanjat sambil melompat sejauh 5 meter. Jenis monyet ini juga dapat berenang dengan baik.

Kera ekor panjang hidup berkelompok, jumlah kelompok biasanya terdiri dari 10-20 ekor di hutan bakau, 20-30 ekor di hutan primer, 30-50 ekor di hutan sekunder, dengan komposisi komplit ada induk jantan dan betina beserta anak-anaknya. Besar kecilnya kelompok ditentukan oleh ada tidaknya pemangsa dan sumber pakan di alam. Pergerakan dilakukan untuk mendapatkan pakan di dalam melangsungkan hidupnya. Luas daerah jelajah 50 hingga 100 ha untuk satu kelompok. Luas daerah jelajah sangat erat hubungannya dengan sumber pakan.

Monyet ini memiliki alat kelamin menonjol, yang jantan kantong zakar besar. Masa kawin pada setiap siklus, kawinnya beramai-ramai, seekor pejantan kawin dengan beberapa ekor betina dan seekor betina kawin dengan beberapa ekor pejantan. Masa bunting selama 116 hari.

Monyet ekor panjang mampu hidup dalam berbagai kondisi dari hutan bakau di pantai, dataran rendah sampai pegunungan dengan keting- gian 2000 mdpl. Monyet ini dapat ditemukan di mana-mana, menjadi hama bagi penduduk, merusak padi, jagung dan tanaman buah-buahan.

  •   Pandan, Penghijau dan Pelindung Pantai Papuma

Jika anda telah menapakkan kaki di pasir putih papuma dan berjalan menyusuri sepanjang garis pantai pasir putih di papuma, maka pasti anda pernah menyaksikan jajaran tumbuhan berdaun mirip sirip dengan akarnya yang muncul di permukaan tanah menyerupai batang pokoknya.  Jika anda beruntung dan mendapati pohon-pohon tersebut berbuah, maka anda akan saksikan buah pohon tersebut yang mirip durian tapi berlapis-lapis berwarna hijau – ketika muda – dan berwarna kuning jingga – ketika tua.  Betapa Indah dan colourfull sekali buah tersebut dan mengundang selera untuk memakannya.  Tapi jangan salah, meski warnanya sangat menggiurkan dan mengundang selera, namun buah ini tidak dapat dimakan.

Tahukah anda, tanaman apakah yang menjadi salah satu pembentuk biodiversity di papuma ini?  Ya, ……itulah dia tanaman pandan, si penghijau dan pelindung pantai papuma.

Pandan merupakan segolongan tumbuhan monokotil dari genus Pandanus. Sebagian besar anggotanya merupakan tumbuh di pantai-pantai daerah tropika. Anggota tumbuhan ini dicirikan dengan daun yang memanjang (seperti daun palem atau rumput), seringkali tepinya bergerigi. Akarnya besar dan memiliki akar tunjang yang menopang tumbuhan ini. Buah pandan tersusun dalam karangan berbentuk membulat, seperti buah durian. Ukuran tumbuhan ini bervariasi, mulai dari 50cm hingga 5 meter, bahkan di Papua banyak pandan hingga ketinggian 15 meter. Daunnya selalu hijau (hijau abadi, evergreen), sehingga beberapa di antaranya dijadikan tanaman hias.

Pandan pantai (Pandanus tectorius) merupakan salah satu jenis vegetasi yang khas pantai di papuma.  Tanaman pandan menyebar di sepanjang pantai yang tidak tergenang oleh pasang surut air laut. Ciri umum habitat pandan  adalah berada di ekosistem yang tidak terpengaruh iklim, tanah kering (tanah pasir, berbatu karang, lempung), tanah rendah pantai, pohon kadang-kadang ditumbuhi epyphit dan dapat dijumpai terutama di pantai selatan P. Jawa, pantai barat daya Sumatera dan pantai Sulawesi.

Berdasarkan susunan vegetasinya, ekosistem hutan pantai papuma dapat dibedakan menjadi 2, yaitu formasi Pres-Caprae dan formasi Baringtonia.
  1. Formasi Pres-Caprae; Pada formasi ini, tumbuhan yang dominan adalah Ipomeea pres-caprae, tumbuhan lainnya adalah Vigna, Spinifex littoreus (rumput angin), Canavalia maritime, Euphorbia atoto, Pandanus tectorius (pandan), Crinum asiaticum (bakung), Scaevola frutescens (babakoan).
  2. Formasi Baringtonia; Vegetasi dominan adalah pohon Baringtonia (butun), tumbuhan lainnya adalah Callophylum inophylum (nyamplung), Erythrina, Hernandia, Hibiscus tiliaceus (waru laut), Terminalia catapa (ketapang).

  • Gebang : Si Palem Berdaun Kipas Nan Menawan


Jangan salah dengan jenis tanaman yang satu ini. Pohon yang tinggi menjulang dengan bentuk batang yang hampir silindris dan berdaun kipas ini, sekilas mirip palem atau siwalan atau aren bahkan kelapa.  Itulah Gebang atau Corypha utan, sejenis palem berdaun kipas yang akan anda saksikan banyak tumbuh dan mengelompok di papuma.

Gebang adalah nama sejenis palma tinggi besar dari daerah dataran rendah. Pohon ini juga dikenal dengan nama-nama lain seperti gabang (Dayak Ngaju), gawang (Timor), pucuk (Btw.), pocok (Md.), ibus (Bat., Sas.), silar (Minh.) dan lain-lain. Nama ilmiahnya adalah Corypha utan.  Keberadaan pohon ini di papuma sangat dominan dan mencolok karena pohonnya yang tinggi besar, menyerupai kelapa, dan berdaun kipas.  Bagi yang tidak terlalu paham dengan jenis-jenis tumbuhan, banyak yang mengira / menyamakan pohon ini dengan pohon siwalan atau enau. Padahal habitat antara gebang dan siwalan jelas sangat berbeda.

Sebagai salah satu penyusun formasi vegetasi Barringtonia, pohon palma yang besar ini berbatang tunggal, tinggi sekitar 15-20 m. Daun-daun besar berbentuk kipas, bulat menjari dengan diameter 2-3,5 m, terkumpul di ujung batang; bertangkai panjang hingga 7 m, lebar, beralur dalam serta berduri tempel di tepinya. Bekas-bekas pelepah daun pada batang membentuk pola spiral.

Gebang hanya berbunga dan berbuah sekali, yakni di akhir masa hidupnya. Karangan bunga muncul di ujung batang (terminal), sesudah semua daunnya mati, berupa malai tinggi besar 3-5 m, dengan ratusan ribu kuntum bunga kuning kehijauan yang berbau harum. Buah bentuk bola bertangkai pendek, hijau, 2-3 cm diameternya.
Daun gebang, terutama yang muda, diolah menjadi berbagai bahan anyaman yang bagus; untuk bahan membuat tikar, topi, kantong, karung, tali, jala dan pakaian tradisional. Helai-helai pita dari olahan janur gebang ini pada masa lalu ramai diperdagangkan terutama di Sulawesi Selatan; dikenal beberapa macamnya seperti agel, papas, dan akan.

Sejenis serat tumbuhan yang cukup baik dapat pula dihasilkan dari tangkai daunnya, setelah dibelah-belah, direndam dan diolah lebih lanjut. Serat ini dapat dipintal menjadi tali atau, di Filipina, dianyam menjadi topi.
Umbutnya dapat dimakan. Demikian pula dengan sagu yang diperoleh dari empulur batangnya, meski biasanya sagu ini untuk makanan hewan saja dan baru dimakan orang di masa paceklik. Di Ayotupas, sagu gebang dibuat menjadi semacam kue lempengan yang dibakar dan disebut putak; biasanya dimakan bersama pisang.

Batang gebang cukup keras, terutama bagian luarnya yang mengayu, dan biasa digunakan sebagai bahan bangunan. Potongan batang yang utuh dan dibuang bagian tengahnya (empulur) biasa digunakan untuk membuat bedug.

Beberapa bagian pohon gebang memiliki khasiat obat. Akarnya digunakan untuk menyembuhkan diare ringan dan berulang. Air dari pelepahnya digunakan sebagai anti racun. Semacam getah kemerahan (blendok, Jw.) dari pucuknya digunakan untuk mengobati luka, batuk dan disentri.

  • Keben : Pohon Peneduh Yang Buahnya Bisa Untuk Racun Ikan


Jika anda melihat dan menemukan buah yang berserakan jatuh dari sebuah pohon yang banyak terdapat di papuma seperti terlihat pada gambar di samping, maka itulah buah dari pohon keben.  Di beberapa daerah pohon ini disebut dengan nama songgom, putat laut, atau butun (Sunda) Keben atau Barringtonia asiatica adalah pohon yang memiliki morfologi tumbuh tegak dengan batang tampak bekas tempelan daun yang besar. Daun membulat telur sungsang atau lonjong-membulat telur sungsang. Perbungaan berbentuk tandan dan letaknya diujung, jarang di ketiak, kelopak bunga hijau seperti tabung panjang, daun mahkota putih, menjorong, benang sari memerah di ujung, putik memerah di ujung. Buahnya membundar telur, menirus ke ujung, menetragonal tajam ke pangkal yang mengggubang, bila muda berwarna hijau setelah tua menjadi coklat.


B. asiatica banyak tumbuh di papuma di sekitar cafepapuma dan area camping ground.  Buah sering terlihat mengapung sepanjang pantai. Mereka mengapung dan dapat tumbuh setelah menempuh perjalanan yang jauh. Bunga terbuka setelah matahari tenggelam dan rontok menjelang pagi, sehingga hanya terbuka satu malam saja. Penyerbukan kemungkinan dilakukan oleh ngengat besar. Barringtonia asiatica merupakan jenis litoral yang hampir ekslusif, pada beberapa daerah pohonnya dapat tumbuh jauh ke daratan pada bukit atau jurang berkapur, biasanya tumbuh pada pantai berpasir atau dataran koral-pasir, di sepanjang pantai atau rawa mangrove pada ketinggian 0-350 m di atas permukaan laut.

Di Indonesia, Filipina dan Indo-Cina, buah atau biji dipakai untuk racun ikan, sedangkan di Kepulauan Bismarck, biji segar diparut dan dibubuhkan langsung pada pegal-pegal. Biji yang kering dihaluskan, dicampur air dan diminum untuk batuk, flu, sakit dan radang tenggorokkan. Dibubuhkan secara eksternal pada luka atau limpa yang bengkak setelah terserang malaria. Di Australia, suku Aborigin menggunakannya untuk racun ikan dan kadang-kadang meredakan sakit kepala. Di Indo-Cina buah yang muda dimakan sebagai sayur setelah dimasak lama. Ditanam sebagai pohon peneduh di sepanjang jalanan utama sepanjang laut.

Jenis ini seringkali dikelirukan dengan Terminalia catappa atau Fagraea crenulata. Meskipun demikian, B.asiatica memiliki daun yang lebih berdaging, lebih mengkilat dan ujung yang lebih runcing dibandingkan dengan T.catappa. F. crenulata memiliki daun yang tumbuh berpasangan serta memiliki duri di sepanjang batangnya.
 

Selamat berwisata di papuma.  :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar